profile gallery cv agenda articles page 1 contact us links

 

 

 

 

 

Titik Utama – Ultimate Point:
Seni Rupa Rintisan Brahma Tirta Sari

 

Berjalan memasuki galeri Segaragunung yang sejuk di Yogyakarta, Jawa ... Island Gallery yang mandi cahaya di Bainbridge Island dekat Seattle ... Queensland Art Gallery yang monumental dengan banyak ruangannya di Brisbane ... lukisan-lukisan luar biasa melambai pelahan, meliuk anggun dalam embusan angin kecil dari pintu-pintu galeri yang membuka dan menutup serta tubuh-tubuh yang beringsut lamban melewatinya. Benih-benih warna berkecambah dan berpilin menikmatkan indera; permukaan-permukaan fraktal mendesak dari atas dan bawah, dalam anyaman warna kosmis; bentuk-bentuk menyala memijar di seantero kubah langit dwimatra. Warna-warna coklat kemerahan yang lembab dan lumer menjadikan anak panah tatapan mataku meleleh, terserap, terbuai. Warna-warna biru gelap dan ungu pucat kebiruan yang sejuk dan yang hangat mengalir bagai arus udara dan air, menemu gema di dalam dan di luar diriku. Garis-garis sejajar bergerak dalam alunan anggun, berzigzag dan berpilin bersama, dan noktah-noktah putih tak terwarna pada latar nila, coklat atau merah soga, menyalakan kain itu bagai kunang-kunang atau bulir-bulir padi yang tumpah ke langit malam seolah ingin mencipta Bima Sakti lain.

Dalam suatu dunia pascamodern, yang dirajang oleh lalu-lalang pejalan, teknologi dan gagasan dalam jumlah, frekuensi dan jenis yang lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya – dalam suatu dunia yang menantang pikiran kita untuk menganut perspektif pluralis lintas-budaya hingga ke tingkat yang mengguncangkan – bagaimana cara kita menulis tentang karya seni? Dan, dalam masyarakat mega-konsumer yang keranjingan dan merangsang budaya visual berupa produksi film, televisi dan iklan/komersial, apalah (pentingnya) seni?

Semua ini bukanlah kanvas; ini bidang-bidang kain sutera. Dan warna-warna itu adalah pewarna celup yang sudah menyatu tak terpisahkan dengan kainnya, yang terpapar seputar garis-garis serta bidang-bidang lilin (malam) yang diterakan dalam keadaan panas. Inilah lukisan batik yang, laksana air, dapat meliputi atau menggelantung menghiasi segala bidang atau bentuk: seperti adikarya seni rupa gaya Eropa konvensional dalam sejarah seni rupa, batik dapat melekap di dinding – datar dan terlindung dari persentuhan fisik dengan pengindra. Namun, seperti kontinum waktu-ruang Einstein, yang melengkung, batik tidaklah terpenjara dalam suatu bentuk statis, garis-lurus, bidang datar. Seperti tekstil, yang meneguhkan ikatan kekerabatan di kalangan bangsa-bangsa pribumi – yang dapat pula menjadi sarana aktif penyembuhan dan perlindungan – batik dapat membalut dan mendandani tubuh manusia, yang mati maupun hidup, secara satu-persatu maupun berkelompok. Layaknya peta para penjelajah, batik dapat digulung atau dilipat, sangat portabel, dan dapat dibuka direntang jika perlu diamati lagi. Karya hibrid ini adalah lukisan, kulit kedua (pakaian), peta sutera dan model semesta. Juntaian panjangnya dari langit-langit atau dinding adalah jalan dan jembatan, tangga yang membawa ke mana-mana, melambai mengajak kita, meng-isyaratkan hubungan-hubungan yang berada di luar batas-batas yang dikenal dalam dunia akademis. Si sejarawan seni rupa di dalam diri mendorong minggir si penghayat pe-ngalaman untuk mendesakkan pertanyaan: “Siapa? Apa? Mengapa?”

Ketakpadaan lintas-budaya dan global disiplin sejarah seni rupa, yang lahir di Eropa dan sebagian terbesar masih Barat-sentris, menegaskan kemendesakan pertanyaan-pertanyaan itu. Ada begitu banyak sejarah seni rupa yang tersembunyi, terlupakan atau tersumbat dan hingga kini belum dimasukkan ke dalam bingkai dan kurikula sejarah seni rupa. Untunglah, memang ada para sarjana dan juru cerita yang terpencar- pencar yang menceritakan kisah-kisah selain yang Eropa sentris, dan kurang dikenal. Yang lebih sering terjadi ialah bahwa para juru cerita dan saksi sejarah-sejarah demikian adalah senimannya sendiri, yang mendahului, mengilhami, mengajarkan dan akhirnya bekerjasama dengan sarjana pengkaji untuk menggeser paradigma pemikiran dan perilaku dominan. 1

Lalu, dari manakah pendekatan kita dalam mengkaji seni rupa seorang Amerika kulit putih yang telah menjadi Jawa yang berkarya secara kolaboratif, meleburkan identitas ke- senimanan individualnya dengan identitas seorang seniman Jawa berlatar belakang tradisional yang telah mengglobal?

Sudah jelas, dalam suatu zaman yang pluralistis, tak ada satu pun ancangan tunggal atau bingkai monolitis yang memadai. Bahkan bingkai-bingkai inter- dan multi-disiplin sejarah seni rupa yang ada sekarang pun mungkin perlu direntang atau malahan dibongkar. Meski demikian, telaah baku dalam sejarah seni rupa sekurang-kurangnya dapat dijadikan titik tolak dalam perjalanan kita menjelajah kerumitan pemahaman lintas-budaya mutakhir. Selain itu, pluralisme zaman ini meluas hingga melampaui cakupan pendekatan dan pertanyaan-pertanyaan sejarawan seni rupa sendiri: selagi telaah itu bergulir dan terurai dalam esai berikut ini, menjadi jelaslah bahwa tidak ada satu pun penulis individual – tulisan semacam ini sifatnya kolektif dan kolaboratif (lebih menyerupai paduan suara ketimbang nyanyian solo), yang mencakup berbagai gagasan dan suara banyak orang di seantero ruang dan waktu – suatu pengertian yang akan bergema secara lebih bermakna lagi jika kesenian Agus Ismoyo dan Nia Fliam (kadang-kadang diacu sebagai ISNIA) serta kelompok usaha Brahma Tirta Sari dieksplorasi.

Biografi Seniman dalam Garis Besar:

Waktu benih ditanam, kita tidak selalu tahu bagaimana tumbuhnya nanti. Waktu botol berisi pesan dilemparkan ke laut lepas kita tidak tahu ke mana angin dan air akan membawanya. Tetapi benih dan botol itu terengkuh ke dalam proses yang lebih besar dan di suatu tempat, di suatu saat, suatu arah dan suatu hasil akan muncul.

Meskipun hal-hal rinci dalam biografi setiap orang unik (apalagi biografi seniman berpasangan seperti ISNIA), beberapa tahap penting tertentu dalam perjalanan seorang seniman seringkali menempuh jalur-jalur yang mirip. Tahap-tahap perjalanan yang saya perikan di sini secara khusus dibuat untuk seniman yang merupakan inovator besar, yang mendahului rekan-rekan dan publik mereka, yang meretas wilayah baru, meskipun secara umum tahap-tahap itu mungkin menggambarkan perjalanan kebanyakan seniman.

Tahap I. Mencari Arahan:

Nia Fliam, yang lahir dan dibesarkan di Colorado, Amerika Serikat, pindah ke New York City untuk menempuh studi seni rupa. Belajar di Pratt Institute dan meraih gelar BFA di bidang Desain Tekstil tahun 1981, Nia menjadi tertarik pada batik Afrika. Ketika ia mendengar kekayaan tradisi batik di Jawa, mulailah ia menelitinya, dan itu membawanya ke Jawa. Tiba di Indonesia pada1983, ia mulai belajar batik pada berbagai seniman batik antara lain BS Gunawan, Tulus Warsito dan Jon Sujono. Akhirnya ia mempelajari khasanah motif batik Jawa yang sudah panjang sejarahnya dari Ibu Duto, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta, guru yang hidup di lingkungan dan suasana Jawa tradisional, dan yang dengannya komunikasi Nia terhambat oleh bahasa.

Waktu saya bertemu dan berkenalan dengan Nia atas jasa teman saya yang juga teman Nia, di Yogya tahun 1984, ia sedang tenggelam dalam kesibukan belajar bahasa Indonesia dan membatik dari guru-gurunya yang bermacam-macam. Inilah awal telaah Nia, pada tataran yang lebih sadar, tentang gagasan kejeniusan artistik individual, kepenciptaan (authorship), dan pencarian yang kompetitif akan inovasi dan status individual. Ia teruskan studi intensifnya tentang pembuatan batik Jawa itu, sementara terus-menerus melukis karya-karya abstraknya yang berukuran kecil.

Agus Ismoyo, yang lahir dan besar di Yogyakarta dalam keluarga yang berasal dari Surakarta, tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan praktik holistik falsafah Jawa dan ilmu pengetahuan, yang antara lain mencakup pencarian makna ‘tanda-tanda’ kuno seperti yang ditemukan di monumen-monumen arkeologis, kain batik, wayang kulit, dan sebagainya. Ismoyo, yang leluhur-leluhurnya adalah pembatik di Solo (Surakarta), waktu itu juga mulai membuat lukisan cat minyak. Pendidikan dan pelatihannya yang berbasis keluarga mendalam dan luas, dan pengetahuan diajarkan sebagai sarana mengembangkan kepribadian dan jiwa, tanpa memandang bahwa ada jurang pemisah antara keduanya melainkan bahwa keduanya merupakan kontinum. Jalur yang memberikan bimbingan paling bermakna bagi kerja kesenian Ismoyo bukanlah pendidikan formal, melainkan pembelajaran informal (dalam gaya pramodern yang unggul) tentang seni, filsafat, dan simbolisme. Ia menempuh studi konvensional di Akademi Perindustrian di Yogyakarta selama empat tahun, jurusan Manajemen Industri.

Tahap 2, Belajar pada Empu Guru Spesialis:

Nia dan Ismoyo berjumpa di Yogya pada 1985. Dengan sangat segera, mereka mulai mengembangkan kemitraan di bidang seni sebagai ekspresi yang eksploratif, penuh makna, dan berakar pada telaah dan praktik filsafat. Pada masa itu Ismoyo tidak berminat menempatkan lukisannya dalam dunia seni lukis modern kontemporer yang sudah mapan di Indonesia; alih-alih, ia memandang keseniannya sebagai bukan sekadar proses yang murni estetis atau proses keterlibatan sosial. Nia mulai belajar filsafat Jawa dari Pak Subekti, ayah Ismoyo yang adalah seorang guru dan kemudian dikenal sebagai Romo Djayakusuma.

Pelajaran yang diperoleh Ismoyo dan Nia mengenai pola-pola batik tradisional mengantarkan mereka mendalami berbagai ikonografi yang secara filosofis rumit. Suatu titik perhatian utama dalam karya ISNIA sejak awal adalah meditasi visual mengenai unsur-unsur pembentuk segala sesuatu. Falsafah Hindu-Jawa meletakkan unsur-unsur tersebut secara relasional maupun hierarkis, seturut struktur tiga dunia yang tercermin pada struktur gunung, candi, dan tubuh manusia. Suatu lukisan batik, dari tahun 1987, yang memberikan penghormatan kepada unsur air juga memperlihatkan betapa kedua seniman ini menaruh hormat kepada seorang guru yang mereka tinggikan: karya itu, yang dikerjakan dalam kolaborasi dengan seorang seniman lain, adalah penghormatan kepada ombak besar yang berpilin, yang mirip cakar, dan bermahkotakan buih dalam lukisan Hokusai. 2 Ismoyo menjelaskan, air mewakili kesuburan, dan dengan turun dari langit ke dalam bumi, air punya daya mempersatukan kutub-kutub yang bebeda-beda.

Satu di antara karya-karya yang dihasilkan ISNIA tahun 1988 – karya-karya paling awal yang sempat saya saksikan proses pembuatannya – menunjukkan kesetiaan untuk menghormati simbolisme dan makna dalam motif-motif tradisional. Tetapi karya tersebut juga menunjukkan awal kesediaan mereka untuk meninggalkan proses menyalin dengan tekun dan sepenuh sadar bentuk-bentuk tradisional. Kedua seniman ini mengembangkan pandangan mereka bahwa kebutuhan setiap zaman menyebabkan munculnya berbagai sintesis dan variasi kebentukan yang unik, yang dapat mengolah dan mengungkapkan ajaran-ajaran abadi secara lebih kontemporer.

“Untitled” merupakan simfoni warna-warni indigo yang ringan dan berat, lila dan ungu.3 Wilayah-wilayah datar yang tanpa detil berkontras dengan wilayah-wilayah yang padat diisi dengan sejumlah teknik tutupan lilin dan pewarnaan celup yang diulang-ulang. Sebentang langit kelam, yang dititik-titik oleh noktah-noktah bagai bintang dan pasangan-pasangan garis dengan patahan-patahan tajam, yang memancing bayangan tentang petir atau tenaga listrik, memberikan kedalaman. Rujukan pada ether, udara dan nyala biru membuat karya ini menjadi suatu penghormatan kepada yang tertinggi di antara unsur-unsur, yaitu jiwa (spirit), yang digagas dan dilaksanakan secara kental. Ismoyo menafsir simbolisme warna biru sebagai representasi keseimbangan, ekuilibrium; ungu sebagai warna keserasian, seperti misalnya antara dua orang mitra atau kekasih.
.......................................................................................................................................

 

Segaragunung gallery in Yogyakarta, Java

Sekar Jagad, 1995

Api Hijau / Green Fire 2001

Kantong Bolong / Pocket of Holes, 1992

 

Mangkuk Pengemis / Begger’s Bowl, 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

n