profile gallery our cv agenda articles contact us links

 

 

 

 

 

Exhibition Venues


Netzorg and Kerr Gallery
Richmond Center for the Visual Arts
Western Michigan University
Kalamazoo, MI, USA
10 January - 15 March 2008

Washington, D.C.
May 2008

Island Gallery, Bainbridge, WA, USA
11 - 31 July 2008

Taman Budaya Yogyakarta, Java, Indonesia, 18 - 27 October 2008

 

P r o l o g

Agung Harjuno

Mahluk hidup (manusia) dituntut untuk selalu bertelur. Namun yang dinilai bukan berapa banyak telur yang dihasilkan. Yang dinilai ialah berapa jumlah telur yang menetas.

—Romo Djajakoesoema

Manusia tidak mau hidup begitu saja di tengah-tengah alam. Manusia selalu ingin mengolah dan mengubah alam semesta menjadi dunia artifisial sebagai tempat untuk melangsungkan hidup dan kehidupan.

Muncul kesadaran, bahwa mengolah dan mengubah alam sesungguhnya sama artinya dengan membuat jurang pemisah antara manusia dengan Sang Maha Pencipta. Ada keinginan untuk kembali mendekatkan diri, membangun keseimbangan dengan hukum alam. Inilah kesadaran universal yang kemudian melahirkan peradaban. Di dalam peradaban ini terdapat tata nilai yang mencakup semua aspek kehidupan yang disebut tradisi.

Manusia hidup dalam tradisi, oleh sebab itu tradisi memiliki sifat yang selalu tumbuh dan berkembang. Ketika tradisi yang lahir dari kesadaran kolektif tersebut menjadi spirit bagi ekspresi personal, dan ekspresi personal itupun dikontribusikan untuk kepentingan kolektif, maka tradisi itu menjadi hidup dari generasi ke generasi.

Ada pepatah, ‘lain lubuk lain ikannya’ artinya: di muka bumi ini ada ragam yang berbeda-beda antara tradisi di suatu komunitas masyarakat di suatu tempat dengan tradisi masyarakat di tempat lain. Masing-masing tradisi memiliki formula keharmonisan yang khas tentang hubungan kehidupan masyarakat dengan alam lingkungannya. Namun oleh karena peradaban manusia itu lahir dari ‘kesadaran universal’ maka di dalam keragaman tersebut terdapat ruang yang memberi kesempatan untuk terjadinya dialog lintas budaya.

Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke 9 di Jawa Tengah menampilkan seni arsitektur pundhen berundak (megalithikum) yang di-gaya-kan menjadi sebuah kubah stupa raksasa.1 Kreasi arsitektural yang tercipta dari dialog lintas budaya yang terjadi ketika tradisi lokal bertemu dengan ‘tradisi besar’ (Hinduisme-Budhisme), di mana budaya pendatang terasa hadir dengan dominan. Namun ketika dialog lintas budaya itu terus berlangsung hingga lima abad lamanya, local genious muncul pada tradisi Gunung Lawu,2 Candi Sukuh tampil dengan tradisi local yang dominan, sementara Hinduisme tampil ibarat api yang telah padam namun masih membara.3

Tais adalah seni tenun tradisional di kepulauan Timor dengan beragam motif yang menjadi simbol dari dongeng-dongeng suci atau dongeng tentang asal-usul. Setelah tradisi lokal ini bertemu dengan tradisi besar (Christian), maka ketika para missionaris melaksanakan tradisi untuk mendirikan patung-patung Bunda Maria di goa-goa alam, masyarakat pun merespon dengan memasang tais (selendang) sebagai pertanda Bunda Maria telah hadir dan diterima ke dalam tata nilai kehidupan masyarakat.

Motif-motif batik Jawa yang syarat dengan simbol-simbol kosmis ternyata juga terbuka untuk nuansa naturalis sebagai pengaruh dari kesenian keramik Cina dan seni rupa Jepang, bahkan juga nuansa realisme Eropa.

Berkaitan dengan proses penciptaan, dialog budaya tidak hanya dapat berlangsung secara horizontal menembus ruang, tetapi juga dapat berupa interaksi vertikal menembus waktu. Tradisionalisme sering berarti sebagai kehadiran nuansa kelampauan ke dalam dimensi kekinian. Banyak karya-karya seni kontemporer yang lahir dengan spirit tradisional.

Ismoyo dan Nia melalui pendalaman filsafat Jawa kuna menjelajahi akar-akar budaya Jawa, khususnya tradisi seni batik, hingga menemukan hakikat dari proses kreativitas yang tercantum sebagai kalimat penutup dari sebuah kidung leluhur berbunyi ‘kapti kerdat-ing sukma’. Artinya ialah, bahwa hukum kreativitas adalah ‘bebas murni’, mutlak terserah kepada kemauan jiwa subyek. Kemauan yang bergetar karena terjalinnya hubungan kedalaman antara mikrokosmos (kesadaran ego) dengan getaran makrokosmos (masyarakat dan alam raya) serta cahaya Ketuhanan.

Tatkala kidung leluhur dari jaman kuno di Jawa itu dilantunkan Ismoyo dan Nia di gurun pasir di tengah benua Australia , maka para seniman masyarakat Anmalyer dan Alyawarr menyambut dengan kidung leluhurnya Altyerr (dreaming). Selanjutnya mereka ‘berdiri sama tinggi, duduk sama rendah’ bersama-sama mereka larut dalam proses kreativitas yang bersumber dari kesadaran universal. Pendekatan melalui simbolisme universal ini memungkinkan Ismoyo dan Nia membangun jaringan kolaborasi seni serat-tekstil, tidak hanya dengan seniman Aborigin tetapi juga melibatkan masyarakat tradisional pedalaman Afrika dan orang-orang desa dari Jawa. Dan ternyata kreativitas kolektif ini dapat diterima sebagai bagian dari kesenian kontemporer.

Rumah Budaya Babaran Segaragunung bukan bermaksud mendepankan pandangan seni yang mengacu pada kesenian tradisional, melainkan lebih menekankan pada adanya celah-celah yang dapat dimanfaatkan untuk terjalinnya dialog lintas budaya.

Kesenian tradisional selalu terkait dengan dimensi-dimensi di luar artistiknya, terdapat nilai-nilai lain yang turut ambil bagian dalam proses penciptaan. Ekspresi kolektif yang termuat di dalamnya memberi peluang untuk terbangunnya kolaborasi lintas budaya. Ketika proses kreatif yang bersifat kolaboratif ini dapat dimanfaatkan maka kesatuan antar manusia sejagad menjadi suatu esensi. Proses kreativitas ini memberikan hak yang setara kepada semua orang yang terlibat. Di sinilah manusia dapat mencapai dasar dari demokrasi yang sejati!

Agung Harjuno
Pengamat budaya dan penulis, Direktur Rumah Budaya Segaragunung dan Padepokan Segaragunung. Arkeolog terlatih lulusan Universitas Gadjah Mada, ia telah banyak meneliti candi-candi kuno di Gunung Lawu, dekat Solo.

 

 

Seated: Dwi Kusno Raharjo, Nura Rupert, Nungalka (Tjaria) Stanley, Agus Ismoyo
Middle Row: Nia Fliam, Renita Stanley, Josephine Mick, Alison Carroll, Alison Munti
Back Row: Ungakini Tjangala (blue top)*, Kanytjupai Baker*, Hilary Furlong

*Ungakini and Kanytjupai were in the picture
but neither were involved in the collaboration.

Barbara Weir, Ada Bird Petyarre, Susie Bryce, Jenny Green, Violet Petyarre, Nia Fliam, Agus Ismoyo, Hilda Pwerli, Glory Ngale, Myrtle Petyarre

The artists in Mali on the Niger River
from left : Nia Fliam, Agus Ismoyo, Yemisi Ajaya, Souleymane Gora, Kandioura Coulibaly, Ne Nene Thiam, Kemetiga Dembele, Boubacar Doumbia, Baba Sangodare Ajala, (not pictured: Baba Fallo Keita)

Bu Hartinah, Bima Sakti,
batik cooperative of Giriloyo village, Java.

 

Wahyu Tumurun II/ The Blessing of God Comes Down II, 2007, 140 X 115 cm, batik on silk, collaboration Agus Ismoyo and Nia Fliam
with Ernabella Arts, Imiyari (Yulpi) Adamson

 

n