BRAHMA TIRTA SARI: Mencari Hakekat Batik
Asmudjo J Irianto

Kendati teknik batik tak hanya dikenal dalam budaya Jawa, namun sulit disangkal bahwa sofistikasi teknik dan puncak kualitas estetik tradisi batik terjadi di Jawa. Hal itu menunjukkan bahwa batik di masa lalu menempati posisi istimewa dalam budaya Jawa. Pada kenyataannya batik tak bisa dipisahkan dengan falsafah, kepercayaan dan cara pandang orang jawa. Pembentukan nilai-nilai adiluhung batik tersebut terutama terjadi dalam lingkungan kraton. Hal itu didorong oleh upaya kraton untuk menunjukkan posisi pentingnya, sebagai penuntun dan perantara antara semesta dengan rakyat. Orang jawa percaya bahwa untuk mencapai kebaikan dibutuhkan keseimbangan dan keselarasan antara manusia, lingkungannya dan alam. Keyakinan tersebut perlu termanifestasikan dan terefleksikan dalam budaya material yang dihasilkan dan dikembangkan dalam lingkungan kraton, termasuk pembuatan batik. Sofistikasi teknik, makna simbolik dan aspek spiritual batik juga menyebar ke luar tembok kraton, dan melibatkan orang kebanyakan dalam pembuatan batik. Namun kraton tetap menjadi pengarah dan penentu nilai serta pakem batik demi menjaga kualitas dan aspek sakralnya.

Dalam perkembanganya, batik pun mengalami perubahan, penyesuaian dan penyempurnaan. Hal itu telah berlangsung cukup lama, misalnya dengan digunakannya kain yang didatangkan dari luar, seperti India dan Cina. Digunakannya pewarna sintetis dan teknik cap memberikan perubahan cukup signifikan pada produksi batik. Saat ini, dalam konteks masyarakat modern Indonesia tak terhindarkan batik mengalami perubahan besar. Kendati sampai saat ini batik tetap menjadi bagian adat dan ritual Jawa yang masih dijalankan sebagian masyarakat Jawa, namun secara umum produksi batik saat ini tak lagi dapat menunjukkan peranan dan konteks seperti yang dimilikinya di masa lalu.

Modernisasi mau tak mau telah mengubah pola produksi batik. Hilangnya patron kraton menyebabkan produksi batik menjadi lebih egaliter, dan bersentuhan dengan berbagai kemungkinan lain sesuai dengan orientasi masayarakat modern. Sebagai akibatnya produksi batik lebih terikat pada mekanisme ekonomi yang lebih modern dengan orientasi efektifitas produksi demi keuntungan. Tak terhindarkan, hal ini menyebabkan menurunnya kualitas batik yang dihasilkan. Kuantitas produksi besar dengan harga murah yang membanjiri pasar telah menjadikan batik kehilangan aura sakralnya. Perlahan dan pasti makna simbolik batik hilang, dan berubah menjadi sekadar komoditas tekstil. Tentu hal bisa dilihat sebagai konsekuensi logis dari tatanan masyarakat modern. Saat ini, sebagian besar pembuat batik di Indonesia adalah buruh dalam industri batik, yang bekerja untuk mendapatkan gaji—yang sayangnya juga tak seberapa. Para buruh pembuat batik tersebut tentu tak memiliki posisi tawar yang tinggi, mereka menjalankan perintah kerja. Hal ini berbeda dengan para pembuat batik masa lalu, kendati di bawah arahan kraton, namun hal itu dilakukan dengan rasa hormat dan merupakan refleksi nilai bersama yang diterima dan disepakati. Walau, bisa saja hal itu dinilai sebagai praktek feodalisme, namun kenyataannya kesakralan hubungan tersebut terjaga, demikian pula nilai-nilai simboliknya. Tentu saja, penilaian ini bisa dianggap merupakan penilaian yang bias dengan romatisme pada masa lalu.

Berseberangan dengan produk batik massal, adalah potensi batik sebagai karya seni yang dihasilkan oleh seniman individual. Potensi estetik batik telah mengundang banyak seniman untuk mengeksplor seni batik, mulai dari sekadar potensi dekoratif, potensi teknik batik sampai pada representasi nilai-nilai filosofis batik. Kendati seni batik cukup berkembang, namun masih ada jarak cukup besar antara dunia seni batik dengan dunia seni rupa kontemporer. Batik sebagai eskpresi artistik seniman personal pun belum memicu dan memberikan inspirasi pada peningkatan kualitas produksi batik massal. Posisi tanggung ini menunjukkan para seniman batik di Indonesia kurang artikulatif dalam menjustifikasi pilihan seninya. Padahal lingkup seni rupa kontemporer dapat menjadi wilayah yang cukup nyaring dalam menggaungkan permasalahan dan representasi yang ada di balik karya-karya seniman kontemporer. Di sisi lain para seniman batik ini pun kurang dapat—atau tak ingin—menularkan dan menyebarkan kemampuan teknik dan kreativitasnya pada para pembatik di level artisan atau tukang. Padahal dengan kreatifitasnya para seniman batik bisa kembali menularkan dan mengangkat harkat produk batik dalam konteks masa kini. Kendati hal ini telah dilakukan oleh beberapa seniman dan disainer batik dengan cukup sukses seperti Iwan Tirta, Ardiyanto, Obin dan beberapa nama lainnya. Tetapi dengan kekayaan warisan tradisi batik yang dimiliki bangsa Indonesia dibutuh lebih banyak lagi seniman dan disainer batik, terutama dari generasi yang lebih muda.

Saat ini yang sangat dibutuhkan adalah seniman batik yang dapat menggali nilai-nilai filosofis dan kearifan warisan tradisi batik serta mampu menerapkannya dalam berbagai konteks dan permasalahan produksi batik di masa sekarang. Tentu hal ini bukan upaya mudah, namun arah tersebut agaknya yang telah dan terus ditempuh oleh pasangan seniman batik Agus Ismoyo dan Nia Fliam melalui studio batik Brahma Tirta Sari. Kedua seniman batik dwi-tunggal ini memiliki posisi unik dalam medan seni rupa Indonesia. Sangat jarang seniman batik yang juga memiliki studio produksi diterima sebagai bagian seni rupa kontemporer. Tanpa gembar-gembor, Agus dan Nia Ismoyo telah malang melintang dalam berbagai pameran besar seni rupa kontemporer seperti Bienanial dan Triennial, tak hanya di Indonesia, namun juga di luar negeri. Di luar itu, banyak sekali pameran khusus seni tekstil yang telah diikuti kedua seniman tersebut. Dalam berkarya, Agus dan Nia Ismoyo selalu berkolaborasi, dan pengalaman kerja kolaborasi tersebut diperluas tidak hanya dengan seniman dan komunitas seniman di luar negari, namun juga dengan para artisan batik di beberapa desa di Jawa.
Nilai lebih Agus dan Nia Ismoyo dibandingkan seniman batik lain, adalah pada upaya tak henti-henti untuk mencari dan menelusuri makna dan nilai batik, dari berbagai sumber yang mungkin mereka gali. Pengetahuan itu mereka terapkan dalam karya dan proyek-proyek kolaborasi yang mereka lakukan.

Tentu ironis bahwa, kemampuan mengembangkan warisan batik justru dipunyai oleh seniman-seniman mandiri dari negara-negara maju. Sementara sebagian besar pembuat batik di Indonesia adalah buruh yang bekerja pada industri batik, yang sudah tentu jauh dari kebutuhan merevitalisasi batik ataupun mendalami makna dan falsafah batik masa lalu. Hal ini disadari betul oleh Agus dan Nia Ismoyo, itu sebabnya mereka berusaha menularkan kesadaran mengenai pentingnya menempatkan segenap aspek pembuatan batik yang didasari oleh penghayatan, kreatifitas dan daya kritis, tak hanya pada seniman lain tapi juga pada para artisan yang membatu mereka.
Sikap tersebut ditunjukkan oleh penjelasan mereka:
“We like to see our studio as a closely-knit group; we do not see ourselves creatively in a boss-worker relationship. We honor that these people are working with us in creating something. However, they do not know our inner motivations or the philosophical rationale for the pieces. They would state that their motivation for doing such work is quite different from ours and they would most likely consider themselves less central to the actual creative process. They take pride in their craftsmanship, however, and feel a sense of ownership that gives them an added value towards the work that they do, rather than just doing a job for which they are paid. Our successes are our studio’s success as well. To us this gives people working with us a sense of dignity and honors their role in our work.”


Suka atau tidak, saat ini dalam konteks mayarakat modern, individu berperan besar dalam mengembangkan potensi artistik, dari manapun sumbernya. Kendati negara-negara Timur pola kerja komunitas masih berlanjut, namun potensi komunitas tersebut juga bergantung pada individu-individu yang ada di dalamnya. Kompetisi yang tinggi antara individu melahirkan insan-insan yang tangguh dan terus mencari kemungkinan untuk eksis. Hal itu telah menjadi bagian dari budaya global. Karena itu setiap upaya untuk membangunkan kesadaran dan potensi individu merupakan kontribusi langsung pada pengembangan potensi budaya. Dibutuhkan banyak potensi individu yang tangguh, menghargai warisan tradisi dan memahami konsekuensi menjadi modern untuk menjadikan suatu bangsa maju. Dengan kayanya warisan budaya, Indonesia membutuhkan banyak individu yang tangguh dan sadar pada potensi warisan budaya yang dimilikinya. Sungguh menyedihkan bahwa banyak warisan tradisi Indonesia lenyap demikian saja, sebab tak banyak individu yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk dapat memanfaatkan dan mengembangkan warisan tersebut sesuai dengan konteks masa kini.


Melalui Brahma Tirta Sari, Agus Ismoyo dan Nia Fliam ingin menunjukkan perlu dibangitkannya kembali kesadaran mengenai potensi batik yang melampaui nilai-nilai ekonomi dan kapital, yang selama ini telah memerangkap kita. Upaya yang mereka lakukan sesugguhnya adalah kerja keras, yang membutuhkan uluran tangan pihak lain. Kekuatan sebuah bangsa sesungguhnya juga dilandasi terutama oleh kesadaran pada nila-nilai budaya, dan bagaimana menyusun strategi budayanya. Saat ini, berangsur tapi pasti, banyak aspek-aspek budaya bangsa Indonesia yang hilang, tanpa memiliki kesempatan untuk ikut memberikan bentuk dan memperkaya kebudayaan kontemporer Indonesia. Yang dimaksud di sini, bukan sekadar penghidupan kembali aspek-aspek kematerialannya atau kebendaannya, namun juga kesadaran dan kearifannya di belakangnya. Sesungguhnya kebudayaan dalam konteks tradisi merupakan upaya manusia untuk menyelaraskan diri dengan alam. Kesadaran dan respek pada aspek budaya tradisi yang kuat tentu menjadikan modal bagi manusia untuk terus mencari keselarasan dengan lingkungannya di manapun mereka menetap atau berada. Termasuk jika mereka berada dalam ruang-ruang urban dan kosmopolit sebagai akibat proses modernisasi yang tak dapat ditolak. Sayangnya, ruang-ruang urban di Indonesia menjadi ruang-ruang yang ganas, ruang-ruang yang tak nyaman ditempati, terutama oleh mereka yang berada pada level sosial bawah. Ruang-ruang urban tersebut terus menggeser dan merubah bentuk dan wajah penghuninya. Sementara tak ada kemungkinan lain, bagi para grass root kecuali menjadi bagian perputaran kapital, namun sebagai pelengkap penderita. Padahal modal budaya untuk menjinakkan dan memberikan makna pada ruang-ruang “budaya modern” tersebut ada di depan mata.

Apa yang dilakukan oleh Agus Ismoyo dan Nia Fliam agaknya menjadi bentuk ideal yang merefleksikan kepercayaan mereka mengenai hakekat batik itu sendiri: upaya mencari keselarasan, tak mencari pertentangan. Melihat nilai-nilai unggul dan arif, baik itu dari berasal dari tradisi maupun dari budaya masa kini, dan yang terpenting melakukannya dalam tindakan nyata. Mereka menunjukkan bahwa dengan keyakinan pada kearifan dan falsafah batik masa lalu, justru menyebabkan mereka mampu bertahan dalam menahan dan mengantisipasi serbuan industri budaya yang cenderung melahirkan budaya tunggal (mono culture). Melalui seni batik dan proyek-proyek kolaborasinya, Agus dan Nia telah memberikan kontribusi pada budaya kontemporer Indonesia dan dunia.

Bandung, 24 April 2005